Pesona Taman Bukit Benderang dan Keramaian Lapak Kuliner
Taman Bukit Benderang menjadi salah satu destinasi favorit warga untuk menikmati suasana sore dan malam hari. Di kawasan ini, puluhan lapak kuliner berjejer rapi dan selalu dipadati pengunjung. Aneka jajanan dan hidangan lokal tersaji, mulai dari gorengan, minuman segar, hingga makanan berat yang menggugah selera.
Keramaian ini tidak hanya menghidupkan suasana taman, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi para pedagang. Namun, di balik hiruk-pikuk aktivitas jual beli, muncul pertanyaan mengenai potensi pendapatan asli daerah (PAD) yang belum dimaksimalkan.
Potensi PAD yang Tertidur di Taman Bukit Benderang
Meskipun lapak kuliner di Taman Bukit Benderang selalu ramai, kontribusinya terhadap PAD masih dirasa belum optimal. Banyak pedagang yang beroperasi tanpa izin resmi atau belum membayar retribusi secara tertib. Hal ini menyebabkan potensi pendapatan daerah dari sektor ini seolah ‘tertidur’ dan belum tergarap dengan baik.
Pemerintah setempat diharapkan dapat segera mengambil langkah untuk menertibkan administrasi dan pemungutan retribusi, tanpa mengganggu kelangsungan usaha para pedagang. Dengan pengelolaan yang lebih baik, Taman Bukit Benderang tidak hanya menjadi pusat kuliner yang hidup, tetapi juga penyumbang PAD yang signifikan.
Langkah Menuju Pengelolaan yang Lebih Baik
- Pendataan ulang seluruh pedagang yang berjualan di area Taman Bukit Benderang.
- Sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya izin usaha dan pembayaran retribusi.
- Penyederhanaan prosedur perizinan agar pedagang lebih mudah mematuhi aturan.
- Pengawasan rutin dan penegakan aturan bagi pedagang yang melanggar.
- Peningkatan fasilitas umum seperti tempat sampah, toilet, dan lahan parkir untuk kenyamanan pengunjung.
Dengan sinergi antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat, Taman Bukit Benderang dapat terus berkembang sebagai ikon kuliner sekaligus sumber PAD yang berkelanjutan.


Leave a Reply