Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengambil langkah strategis untuk memperkuat kemampuan fasilitas kesehatan (faskes) dalam menangani kasus gigitan hewan beracun. Upaya ini dilakukan guna menekan angka kesakitan dan kematian akibat paparan bisa dari hewan seperti ular, kalajengking, atau laba-laba.
Fokus pada Pelatihan dan Ketersediaan Antivenom
Dalam keterangan resminya, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim menyatakan bahwa penguatan dilakukan melalui serangkaian pelatihan bagi tenaga medis di rumah sakit dan puskesmas. Materi pelatihan mencakup tata laksana awal gigitan, identifikasi jenis hewan, hingga pemberian serum anti bisa (antivenom) yang tepat.
Selain itu, Dinkes Kaltim juga memastikan ketersediaan stok antivenom di setiap faskes rujukan. “Kami telah mendistribusikan serum ke beberapa rumah sakit daerah agar penanganan bisa lebih cepat dan tepat,” ujar perwakilan Dinkes.
Edukasi Masyarakat Juga Digencarkan
Tidak hanya di faskes, Dinkes Kaltim juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat, terutama di daerah pedesaan dan perkebunan yang rawan ditemukan hewan berbisa. Masyarakat diimbau untuk segera mencari pertolongan medis jika mengalami gigitan atau sengatan, serta menghindari tindakan tradisional yang berisiko.
Langkah ini diharapkan mampu menurunkan angka kecacatan dan kematian akibat gigitan hewan beracun di Kalimantan Timur. Masyarakat pun diminta untuk selalu waspada dan tidak panik jika menghadapi situasi darurat tersebut.


Leave a Reply