Suasana sepi melanda kawasan kuliner Pasar Terban, Yogyakarta. Para pedagang yang berjualan di sana mengeluhkan rendahnya jumlah pengunjung yang datang. Menurut mereka, salah satu penyebab utama kondisi ini adalah kurangnya promosi yang dilakukan oleh pengelola pasar.
Keluhan Pedagang soal Promosi
Sejumlah pedagang mengungkapkan bahwa potensi kuliner di Pasar Terban sebenarnya sangat besar. Beragam makanan khas Jogja dan aneka jajanan pasar tersedia di sana. Namun, tanpa adanya promosi yang gencar, masyarakat luas tidak mengetahui keberadaan dan keunikan kuliner yang ditawarkan.
“Padahal dagangan kami enak-enak dan harganya terjangkau. Tapi sayang, banyak orang yang belum tahu kalau di Pasar Terban ada pusat jajanan seperti ini. Promosinya kurang masif,” ujar salah seorang pedagang.
Dampak Sepinya Pengunjung
Sepinya pembeli jelas berdampak langsung pada pendapatan para pedagang. Banyak dari mereka yang mengaku omsetnya menurun drastis dalam beberapa waktu terakhir. Beberapa pedagang bahkan terpaksa mengurangi jumlah dagangan atau membuka lapak lebih siang karena tidak ada kepastian pembeli.
- Penurunan omset harian hingga 50% dibandingkan masa ramai.
- Pedagang mulai mengurangi stok bahan baku.
- Beberapa lapak terpaksa tutup lebih awal karena sepi pengunjung.
Harapan Pedagang untuk Pengelola Pasar
Para pedagang berharap pengelola Pasar Terban segera mengambil langkah nyata untuk meningkatkan promosi. Mereka meminta agar pengelola lebih aktif memanfaatkan media sosial, bekerja sama dengan komunitas kuliner, serta mengadakan event atau festival rutin di area pasar.
“Kami tidak ingin pasar ini mati. Kami berharap ada gebrakan dari pengelola agar Pasar Terban kembali ramai seperti dulu. Promosi adalah kuncinya,” tutup seorang pedagang lainnya.


Leave a Reply