Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI menilai bahwa tempe memiliki potensi besar untuk menjadi identitas wisata kuliner Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ketua PHRI, Hariyadi Sukamdani, dalam sebuah kesempatan.
Mengapa Tempe?
Tempe, makanan fermentasi kedelai yang kaya protein, sudah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Namun, menurut PHRI, tempe belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata. Padahal, tempe bisa diolah menjadi berbagai hidangan modern yang menarik minat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
Potensi Tempe di Mata PHRI
Hariyadi mencontohkan beberapa negara lain yang sukses menjadikan makanan tradisional sebagai ikon wisata, seperti sushi di Jepang atau kimchi di Korea. Menurutnya, Indonesia juga bisa melakukan hal serupa dengan tempe. “Tempe bukan hanya murah dan bergizi, tetapi juga bisa dikreasikan menjadi menu fine dining atau street food yang unik,” ujarnya.
PHRI juga mendorong para pelaku industri perhotelan dan restoran untuk lebih kreatif dalam menyajikan tempe. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Mengembangkan resep tempe modern dengan cita rasa internasional
- Menampilkan tempe dalam paket wisata kuliner
- Mengadakan festival tempe tahunan di berbagai daerah
Dukungan untuk Tempe sebagai Ikon Wisata
Pernyataan PHRI ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk para pegiat kuliner dan pelaku UMKM. Mereka berharap pemerintah juga turut mendukung promosi tempe sebagai warisan budaya tak benda sekaligus identitas wisata kuliner Indonesia.
Dengan pengemasan yang tepat, bukan tidak mungkin tempe akan menjadi salah satu alasan wisatawan berkunjung ke Indonesia, seperti halnya mereka datang untuk menikmati rendang atau sate.


Leave a Reply